Di depan gerbang yang menyembunyikan tempat tinggal keluarga Baihuan dari dunia luar, Rira berdiri dengan senyum penuh kelicikan di wajahnya. Matanya memandang tajam ke dinding tak kasat mata yang kini telah terlihat berkat pasir Glaymur.

"Keluarga Baihuan, kalian tidak beruntung karena memiliki musuh seperti kami. Kalian belum tahu siapa musuh yang akan kalian hadapi," gumamnya rendah namun penuh keyakinan.

Tanpa membuang waktu, ia mengangkat tangannya dan mulai merapal mantra yang di tanamkan oleh Mira kedalam pikirannya. Rafin dan dua penyihir lainnya mengikuti dengan gerakan yang sinkron. Energi hitam pekat menyelimuti tubuh mereka, lalu tubuh keempatnya perlahan berubah menjadi asap hitam berdesis, bergerak lincah dan menyelinap menembus celah formasi energi yang menjaga wilayah Baihuan. Dengan cara inilah mereka berhasil mengumpulkan fragmen senjata iblis tanpa ada pihak yang menyadari.

Begitu berada di seberang, mereka muncul di tengah jalan berbatu yang terbentang di antara bangunan-bangunan besar yang rapi dan kokoh. Arsitekturnya mirip sebuah kota kecil yang mandiri, lengkap dengan pasar, rumah para tetua, dan arena pelatihan. Penduduk di dalamnya tampak hidup seperti biasa, namun Rira bisa merasakan riak energi dari para kultivator kuat yang berlalu-lalang. Level mereka bukan sembarangan, mayoritas berada di tingkat Grandmaster, bahkan lebih. Rira memperhatikan para penjaga yang rata-rata berada di ranah master foundation tingkat emas.

Sementara itu, di dalam aula utama kediaman Monrest, pemuda yang tadi melapor kembali datang tergesa-gesa. Wajahnya pucat dan napasnya memburu.

"Ketua! Penyusup yang tadi muncul... mereka tiba-tiba menghilang. Kami tak bisa mendeteksi keberadaan mereka lagi. Sepertinya mereka telah pergi."

Monrest yang duduk santai di singgasananya tak terlihat panik sedikit pun. Ia menyeringai pelan sambil mengelus gagang kursinya dengan gerakan malas.

"Tidak usah dicari," ujarnya dingin. "Mereka sudah masuk ke wilayah kita. Aku bisa merasakannya. Cepat atau lambat, mereka akan datang kemari untuk mencari fragmen itu. Biarkan saja. Kalian semua tetap beraktivitas seperti biasa. Tunggu perintahku."

Pemuda itu mengangguk cepat, meski sorot matanya dipenuhi keraguan. Ia membungkuk hormat lalu pergi, namun dalam hati pikirannya berkecamuk.

"Jika hanya aku yang tidak melihat mereka, itu masih masuk akal... tingkatanku hanya Master Foundation. Tapi jika para penjaga di ranah Grandmaster dan para tetua di ranah Immortal yang juga kehilangan jejak... itu berarti mereka memang sudah tidak ada lagi di tempat ini. Tapi... aku yakin ketua memiliki alasan tentang hal ini. Aku tak boleh membantah perintah ketua."

Di sisi lain, Rira dan ketiga rekannya yang masih dalam wujud asap mengitari seluruh wilayah pemukiman keluarga Baihuan, menyusuri dari atap ke atap, rumah ke rumah. Sihir penyamaran mereka sangat kuat hingga tak satu pun dari para kultivator yang melintas menyadari kehadiran mereka. Namun dalam bentuk ini, mereka juga tak bisa menyentuh apapun, hanya bisa mengamati, dan mencari lokasi keberadaan benda yang mereka cari.

Rira sempat merasa kesal karena tidak menemukan satu pun bangunan yang mencolok atau tampak seperti kediaman pemimpin besar, tidak seperti sekte-sekte pada umumnya yang menonjolkan kemewahan atau simbol kekuasaan.

Namun akhirnya, di sisi timur kota, mereka melihat sebuah bangunan besar berbentuk persegi delapan dengan atap menjulang tinggi berlapis kristal ungu. Meski tidak terlihat mencolok dari luar, pengamanan di sekitar bangunan itu jauh lebih ketat dari yang lain. Ada empat kultivator berjaga di tiap sisi gerbang, dan orang-orang yang sibuk keluar masuk membawa berbagai barang berharga.

Rira memberi isyarat dengan asapnya dan mereka masuk bersama-sama melalui celah kecil di dinding bangunan.

Begitu masuk, mereka langsung merasakan perbedaan atmosfer tekanan spiritual yang terasa berat. Mata Rira memperhatikan setiap sudut dan mulai mencari ke arah ruang utama. Rira merasa yakin jika bangunan ini adalah rumah pimpinan keluarga Baihuan.

Namun saat mereka melintasi lorong menuju aula utama, ketika melintas di dekat seorang pria tua yang tengah berdiri tenang di samping tiang batu, tiba-tiba pria tua itu tersenyum.

"Lalat busuk..." ucapnya pelan, tapi nadanya mengandung dentuman kekuatan. "Berani-beraninya menyusup ke tempat ini."

Dengan gerakan santai, pria tua itu mengangkat kedua lengannya ke samping, seolah hanya ingin meregangkan tubuh. Namun dari gerakan itu, gelombang kekuatan luar biasa menyapu udara, menghantam Rira dan ketiga penyihir lainnya dalam sekejap.

DUARRR!!

Asap hitam mereka langsung terlempar ke udara, terpental ke dinding batu dengan keras, dan kembali ke bentuk manusia. Tubuh mereka terhuyung, beberapa jatuh berlutut dan mengerang menahan luka dalam akibat serangan spiritual.

"Bagaimana mungkin dia bisa menemukan kami. Tidak, bahkan kalaupun dia bisa menemukan kami seharusnya dia tidak bisa menyentuh dalam wujud asap." kata Rira dengan tatapan tajam ke arah pria tua tersebut.

Mata pria tua itu menatap lurus pada Rira.

"Pencuri... hebat juga ilmu yang kalian miliki. Tapi kau..." katanya sambil berjalan perlahan menghampiri, "...aroma fragmen itu tidak bisa kau sembunyikan dariku. Aku tahu kau memilikinya."

Wajahnya yang semula datar kini menegang dengan ancaman. "Serahkan fragmen senjata iblis itu sekarang juga, atau aku akan mengulitimu hidup-hidup dan membuatmu merasakan penyesalan datang ke tempat ini."

Rira berdiri, darah mengalir dari sudut bibirnya, tapi matanya tetap tenang. "Pria tua, aku tidak tahu bagaimana kamu bisa melukai kami, tapi kamu harus menanggung perbuatanmu." Rira mencoba merasakan kekuatan pria tua di hadapannya namun tidak berhasil.

Desir udara berubah tajam saat aura sihir mendadak memenuhi ruangan. Rira mengangkat kedua tangannya ke depan, membentuk lingkaran sihir rumit berwarna perak kebiruan. Matanya membara, bibirnya melafalkan mantra dengan bahasa sihir kuno yang tak dipahami manusia biasa.

Sementara pria tua di hadapannya, yang ternyata adalah Monrest, hanya menatap dingin tanpa mengubah posisi tubuhnya.

"Mirroring Soul, Reflection Gate!" seru Rira.

Sebuah cermin sihir raksasa tak kasat mata muncul di belakang Rira, dan pancaran cahaya dari tubuh Monrest terpantul ke permukaan cermin itu. Dalam sekejap, tubuh Rira dikelilingi aura gelap yang identik dengan kekuatan spiritual Monrest. Tubuhnya bergetar menahan tekanan yang luar biasa, tapi kekuatannya meningkat drastis. Inilah cara yang dia gunakan untuk melawan tetua Xie Lian. Dengan sihir tersebut, dia mampu melepaskan kutukan kepada lawannya sehingga dia bisa mendapatkan kekuatan yang sama dengan lawannya dalam keadaan terkuatnya.

Rekannya yang misterius dengan penutup wajah dan mata yang terlihat kosong, melangkah ke depan tanpa suara. Bersama Rafin dan Ekar, mereka membentuk formasi bertarung dan mulai menyerang.

Ledakan sihir segera terjadi silih berganti. Cahaya dan bayangan bertabrakan di tengah aula saat satu persatu dari mereka menyerang Monrest. Rira melesat cepat, melepaskan serangan ke arah Monrest dengan refleksi kekuatannya sendiri. Namun semua serangan yang mereka berikan tidak memberikan pengaruh kepada Monrest yang hanya bergerak seperlunya.

Serangan dari mereka hanya berlangsung sesaat.

Tatapan mata Monrest berubah. Dari datar menjadi penuh kebosanan.

"Menarik, kamu bisa meniru kekuatanku. Tetapi apakah kamu pikir kekuatan asliku bisa kamu tiru?" katanya pelan.

Dalam satu hentakan kaki, ruangan bergetar. Monrest menepuk udara seperti menepis debu. Dari gerakannya yang sepele itu, ruang di sekitar mereka langsung terlipat dan menekan Rira. Cermin Mirroring tak kasat mata yang melayang di belakang Rira retak dan pecah seketika.

BOOMMM!!

Tubuh Rira terpental ke belakang, menghantam tiang batu hingga retak. Darah mengalir dari hidung dan mulutnya, namun ia masih memaksa bangkit.

Rekannya yang seperti boneka hidup, memiliki kekuatan sejati yang lebih besar daripada Rira. Tanpa sihir cermin, Rira dapat dibunuhnya dengan mudah. Dia mencoba menyerang Monrest dengan pukulan berkekuatan kabut kegelapan, tapi dalam satu ayunan tangan, tubuhnya menghantam dinding seperti karung kosong. Sihir mereka runtuh satu per satu, hingga akhirnya Rira mengangkat tangan.

"Kita pergi! Sekarang!" Rira berlari cepat, bukan karena takut tetapi dia harus mencari strategi dan kesempatan untuk meraih fragmen senjata iblis, bertarung bukanlah misinya.

Dalam sekejap, ketiganya bergerak cepat menyusul Rira yang berlari keluar. Dengan tubuh terluka, mereka kehilangan kemampuan berubah menjadi bayangan.

Namun saat mereka keluar dari bangunan tersebut, puluhan kultivator sudah mengepung dari segala arah. Aura mereka menekan udara. Terlihat beberapa prajurit bersiap melepaskan anak panah ke arah mereka.

Rira, Rafin dan ekar terlihat terhuyung dan menggertakkan gigi. Rekan mereka yang misterius seperti boneka hidup tetap terlihat berdiri tanpa goyah, tapi tubuhnya terlihat rusak di beberapa bagian.

Rira menarik napas panjang, lalu mengangkat tangannya lagi.

"Curse Weave, Soul Wither!"

Kutukan hitam keunguan menyebar dari tanah, menjalar cepat ke arah para kultivator yang mengepung mereka. Beberapa dari mereka tersentak, merasakan sakit luar biasa meski belum terkena serangan fisik apa pun. Sebagian tubuh mereka mulai melemah, otot-otot mereka mengendur seolah energi mereka menguap.

Namun jumlah lawan terlalu banyak.

Saat menghadapi serangan dari seorang grandmaster, Rira, Rafin dan Ekar segera merapalkan mantra.

"Mirroring Soul, Reflection Gate"

Cermin-cermin tak kasat mata muncul di udara, masing-masing meniru aura dua Grandmaster terdekat. Tubuh Rira, Rafin dan Ekar kembali diselimuti aura kuat tiruan. Mereka melompat dan menyerang secepat kilat, menghancurkan dua kultivator sekaligus.

Namun luka mereka belum pulih. Dalam bentuk tiruan pun tubuh mereka tak sanggup menahan tekanan sihir berkepanjangan. Rira merasa dadanya sesak, darah mengalir lagi dari mulutnya. Matanya masih tajam, tapi tubuhnya mulai melemah.

Rekan yang seperti boneka hidup terlihat bertarung dengan salah seorang immortal, tanpa menggunakan cermin sihir, kekuatannya mampu mengimbangi immortal lawannya untuk beberapa saat sebelum akhirnya kekuatannya mulai berkurang dan tubuhnya terpaku ke dinding oleh bilah energi.

"Ghh… tidak bisa seperti ini…"

